Satu Lagu, Empat Generasi
Setelah berjam-jam berkutat dengan codingan error yang ternyata cuma karena titik koma yang nyasar, aku tiba-tiba mendapat WhatsApp dari seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai si Bass. Tidak pakai embel-embel nama. Tidak ada salam. Tidak ada stiker.
Cuma: “Saya si Bass.”
Aku bengong sebentar. Itu tipe kalimat yang kalau dibaca jam dua pagi, bisa bikin kamu berpikir, “Ini orang, nama aslinya Bass? Atau dia datang dari dimensi musik lain?”
Ternyata dia pemain bass dari sebuah band, dan katanya, mereka sedang mencari vokalis.
Tapi sebelum sampai ke bagian itu, izinkan aku menyampaikan satu kebiasaan umum anak Gen Z: saat mendapat chat dari nomor tak dikenal, mereka secara naluriah akan panik. Bukan panik seperti tidak sengaja menyukai story seseorang, tapi panik yang tenang.
Read receipt dimatikan. Pesan dibaca huruf per huruf, kalimat per kalimat, dengan emosi seimbang antara waspada dan overthinking. Setelah memastikan pesan itu tidak mengandung unsur penipuan, promosi MLM, ataupun judi online, barulah centang biru diaktifkan kembali. Dan saat kamu sadar, ternyata sudah lima jam berlalu.
Si Bass menemukan video cover-ku di YouTube. Katanya dia sudah melihat banyak kandidat, tetapi akhirnya memilih aku karena, aku kutip, suara aku serak-serak basah.
Aku tidak tahu itu pujian, diagnosa, atau pertanda bahwa dunia musik lebih memaafkan daripada dunia kerja.
Kami akhirnya bertemu di sebuah coffee shop. Si Bass mulai bercerita soal band-nya, rencana mereka, dan alasan mengapa mereka membutuhkan vokalis baru. Gayanya santai. Orangnya tanggung: tidak terlalu pendiam, tetapi juga tidak terlalu ramai. Kadang nyeleneh, kadang seperti sedang memikirkan cicilan.
Lalu dia memperkenalkan dua personel lainnya.
Si Drum, kapten tidak resmi. Gesturnya tegas, bicaranya mantap, dan selera humornya sangat, bapak-bapak. Kalau dia melontarkan lelucon, kamu akan tertawa bukan karena lucu, tetapi karena takut suasana menjadi canggung.
Si Pianis, penampilannya keren dan musikal sekali. Ia memang sudah cukup dikenal di industri musik lokal. Tapi leluconnya, receh. Bukan receh Gen Z, tapi receh yang biasanya disertai dengan tawa sendiri dan tepukan di pundak.
Mereka mengajakku bergabung.
Awalnya aku agak ragu. Usia mereka jika ditotal bisa dua hingga tiga kali lipat berat badanku. Tapi satu hal membuatku berkata “iya”: mereka memainkan musik yang membuatku ingin duduk, mendengarkan, lalu bernyanyi pelan-pelan seperti sedang berbicara dengan masa lalu. Oasis, Keane, Radiohead, The Beatles.
Dan mungkin, aku juga butuh tempat itu sekarang.
Latihan-latihan kami sebenarnya tidak pernah penuh konflik. Secara teknis, semua berjalan mulus. Tapi secara psikologis, ini latihan sekaligus gladi resik menghadapi tsunami jokes lintas generasi.
Misalnya, satu hari kami sedang istirahat, aku cerita soal betapa aku suka vokalnya Ronny Parulian. Tiba-tiba si Drum nyeletuk:
“Wah, Ronny? Gue dulu ngefans sama Ronny Sianturi. Eh, Ronny Pattinasarany juga keren tuh.”
Lalu si Pianis menimpali, “Jangan lupakan Roni Dozer.”
Aku hanya bisa tersenyum sambil pura-pura mencari sinyal. Dalam hati, aku berpikir keras:
Apakah ini obrolan musik... atau lomba siapa paling kenal Ronny-Ronny dari zaman Majapahit?
Dan jokes-nya tidak berhenti di situ.
Pernah saat kami mencoba menemukan nada yang paling nyaman buatku, mereka mulai menyebut satu per satu.
“C? Bukan. A? Bukan. D minor?”
Si Drum mendadak nyeletuk,
“Ya asal jangan D-dis, lah. Kalau D-dis, bubar.
Orang di-dis masa masih boleh main musik? Pulang lah bro!”
Aku diam saja, sambil berpikir,
“Oh, jadi ini rasanya, jadi minoritas jokes.”
Kadang aku tertawa tiga detik lebih lambat. Kadang hanya senyum, sambil sembunyi sembunyi buka Google. Tapi anehnya, meskipun kepala pusing karena referensi lawakan mereka udah beda era, suaraku tetap bersua. Pada ruang-ruang yang tak pernah bisa bicara, aku masih bisa menyanyi.
Kadang, hidup mempertemukan kamu dengan orang-orang yang secara algoritma harusnya tidak pernah muncul di beranda. Kalau mengikuti logika rekomendasi, aku seharusnya dikelilingi hal-hal yang familiar: playlist mellow Gen Z, meme absurd, video brainrot,dan obrolan yang dimulai dengan “anjay.”
Tapi entah mengapa, justru yang datang malah tiga pria yang suka menyebut “kibot” untuk keyboard, dan bercanda dengan logika era televisi tabung. Secara sistem, kami berada di cluster yang berbeda: mereka generasi kaset, aku generasi buffer.
Namun justru di situlah, suaraku tumbuh pelan-pelan. Bukan karena aku dipahami sepenuhnya, tapi karena aku diterima bahkan dengan semua ketertinggalan referensi dan tawa yang sering datang, tiga detik terlambat.
Kami memang tidak terlihat seperti band hasil algoritma Gen Z.
Satu dari kami sering lupa nada, tapi hafal tanggal jatuh tempo.
Satunya lagi bisa memainkan semua lagu The Beatles tanpa melihat tuts, tapi tidak tahu bahwa vokalis Hindia
dan .Feast adalah orang yang sama.
Tapi ketika kami memainkan lagu Yesterday bersama-sama, rasanya seperti semua usia, semua lelucon, semua perbedaan itu, diam begitu saja. Tidak menghilang, dan juga tidak berisik lagi.
Karena ternyata, untuk bisa diterima, kamu tidak harus selalu mengerti. Tidak harus selalu punya jenis konten reels Instagram yang sama. Tidak harus tahu semua referensi atau ikut semua tren.
Kadang, yang kamu butuhkan bukan ruang yang sempurna, tapi ruang yang cukup tenang untuk kamu tetap bisa bersuara.
Di dunia yang terus meminta kamu untuk paham segalanya, kadang suara kamu tumbuh justru saat kamu diam-diam tidak mengerti apa-apa, tapi tetap dipersilakan untuk bernyanyi.
Dan di antara segala overthinking, pencarian validasi, dan algoritma yang tak henti menggeser dunia,
kamu akan sadar:
Tidak semua nada harus dipahami.
Ada yang hanya ingin ditemukan, oleh hati yang kebetulan mendengarkan.